Selasa, 03 Desember 2013

This Is (Not) A Poem


I don't need a reason
so stop acting like children.

If life was a film strip
I would cut all the part about our relationship.
coz there's nothing worth to keep.

you're still alive, but I keep pretending that you're already gone forever.
now we're living in the same city, are we gonna meet up? never.

It would be an awkward moment, coz I dunno what to say.
no word left to speak since you left me without a goodbye.

no mercy, you even didn't say sorry.
we're done? hahaha... we even never start, funny.


Lesson 1 : Prepare The Best Place to Grow (Pelajaran Hidup dari Berkebun)




Betapa bodohnya Saya, saking antusiasnya sehabis mendapat pelajaran berkebun, saya langsung menyebar begitu saja benih bayam dan kangkung di halaman belakang rumah Saya. Lalu duduk diam menunggu dengan manis sambil berharap-harap benih sayur-sayuran itu segera tumbuh besar (sambil tiap hari menyiramnya dengan air, tentunya). Setelah tiga atau empat hari akhirnya mulai terlihat muncul tunas-tunas dari benih yang Saya sebar. Perasaan yang Sangat girang meliputi hati, dan Saya pun semakin rajin menyiramnya setiap hari. Namun dua minggu berikutnya Saya kecewa karena semua bibit sayuran Saya berhenti tumbuh, dan mati satu persatu. Ini memang menyedihkan tapi Saya bilang Saya bodoh! Kenapa? karena ternyata hanya menyiram dengan air saja tidak cukup untuk mendapatkan sayuran bagus yang Saya idam-idamkan. Tumbuhan perlu nutrisi dari unsur makro dan unsur mikro, dan tidak semua tanah menyediakan mineral yang lengkap. Harusnya Saya menyiram tanaman-tanaman itu dengan cairan mineral juga seminggu sekali, sehingga kebutuhan nutrisi mereka terpenuhi. Dan yang paling bodoh dari semuanya adalah Saya tidak mencangkul dan mengolah tanah tempat tanaman-tanaman itu tumbuh, padahal ini sangat penting dilakukan sebelum bercocok tanam, karena akar tanaman memerlukan tempat yang gembur agar bisa tumbuh besar dan kuat.
Menebar benih itu ibarat bikin anak, lalu dibiarkan begitu saja (hanya disiram dengan air/dikasih makan doang tapi otak dan hati kosong). Hal ini mengingatkan Saya pada uang. Yaaa....air itu ibarat uang. Banyak anak-anak yang “hanya disiram dengan air saja” oleh orangtuanya. Orangtua pikir anak hanya butuh uang, jadi setiap hari mereka hanya memberi uang saja, tanpa memberi bekal lain untuk bertahan hidup. Padahal anak-anak juga butuh perhatian dan teladan hidup dari orangtuanya. Sebagian besar orangtua di kota besar sibuk “menyirami” anaknya dengan uang, tapi lupa mengajarkan bagaimana caranya untuk menjadi kuat dan bertahan hidup di dunia nyata yang keras ini. Mungkin mereka menganggap itu adalah bagian dari tugas dan tanggung jawab guru-guru di sekolah. Padahal di sekolah-sekolah umumnya (khususnya di Jakarta) anak-anak hanya diajarkan bagaimana menjadi sempurna, nilai harus bagus (entah bagaimana caranya harus lulus KKM). Tidak ada yang mengajari bagaimana cara bertahan dan bangkit lagi kalau anak sedang terpuruk (nilai ulangan merah semua, hampir tidak naik kelas). Orangtua sudah bayar sekolah mahal-mahal, mereka menuntut anaknya agar nilai ulangannya bagus-bagus. Hanya bisa marah-marah kalau nilai anaknya jelek.
Nah....memilih sekolah dan memilih lingkungan rumah juga penting dilakukan sebelum kita “menebar benih”, hal ini ibarat mencangkul dan mengolah tanah sebelum menanam. Memang butuh tenaga yang sangat besar dan prosesnya melelahkan, tapi bukankah kita menginginkan anak kita tumbuh subur dan kuat? Inilah pelajaran pertama yang Saya dapatkan dari berkebun.
Prepare the best place to grow!”
Siapkan dasar yang kuat dan teladan yang baik sebelum berumahtangga dan memiliki anak. Jangan buru-buru kepengen nikah trus punya anak aja, udah siap “nyangkul” blom? Makanya Saya berpikir ribuan kali sebelum “menebar benih”, karena Saya pikir Saya belum terlalu kuat untuk mencangkul tanah sendirian, #mblo hahaha...
Berkebun itu seperti berumahtangga, kelihatannya memang mudah, tapi ternyata prosesnya tidak semudah yang kita lihat. Sekarang dari setiap keringat yang menetes setiap kali Saya sedang bekerja dikebun kecil Saya, hal itu selalu mengingatkan Saya bahwa setiap hal memerlukan kerja keras dan usaha yang tidak mudah. Ada banyak pelajaran-pelajaran lain yang sederhana tapi benar-benar membuka mata Saya tentang kehidupan nyata. Berkebun memang menyenangkan, seperti hidup ini, setiap prosesnya menyenangkan untuk dinikmati dan disyukuri. Jika punya uang banyak mungkin kita bisa saja membayar tukang kebun, atau kalau mau yang instant beli saja langsung sayuran organik di supermarket.  Tapi rasanya beda karena kita tidak melakukan prosesnya. Itulah mungkin mengapa banyak orang bosan dan merasa hidupnya datar-datar saja, tidak ada yang menarik dan menantang lagi untuk dilakukan meskipun sudah keluar uang yang tidak sedikit untuk menghibur diri dan menghilangkan stress. Yaaa...setiap orang memang bebas memilih hobinya, tapi Saya beruntung karena secara tidak sengaja Saya diajak teman untuk ikut berkebun. Meskipun Saya unskilled dan masih dangkal ilmunya, tapi setiap hari Saya jadi makin penasaran dan ingin terus belajar dari para senior-senior yang kebunnya terlihat sangat menggiurkan. 

Tanam, mati, tanam, mati, gagal lagi...gagal lagi...gagal namun persentase kegagalannya semakin berkurang setiap kali Saya belajar dari kesalahan dan mencoba lagi untuk menanam. Puas dan bangga sekali rasanya jika bisa memanen atau memetik buah dan sayur hasil kerja keras di kebun sendiri meskipun itu belum terwujud sampai sekarang, heehehehe... Tapi kegiatan berkebun ini telah mengembalikan semangat hidup Saya yang sudah hampir menyerah karena quarter-life crisis. Gimana nggak semangat, tiap hari harus bangun pagi-pagi buat nyiramin kebon :)

Pelajaran Hidup dari Berkebun (Intro)




Nama mata kuliah : Life
Bobot : 101 sks
Target waktu : tidak bisa ditentukan, tiap mahasiswa punya target masing-masing.
Jadwal ujian : setiap hari, mungkin saja ujian dadakan.
Yang harus selalu diingat “sebelum menilai hasil akhir, lihat dan pelajarilah prosesnya yang rumit!
Ini bukan silabus bahan kuliah, apalagi kata-kata bijak. Postingan-postingan selanjutnya di blog ini akan berisi catatan-catatan pribadi Saya (yang sok tau dan) yang sedang belajar berkebun dan belajar tentang hidup. Sebaiknya jangan dibaca, karena isinya tidak penting (buat orang lain). Hehehe...
Orang pikir Saya adalah orang yang asik, padahal sebenarnya Saya adalah orang yang tidak terlalu banyak bicara jika bertemu dengan orang-orang baru. Saya hanya sibuk memperhatikan mereka sambil sedikit mengobrol santai seperlunya, padahal dalam kepala Saya, Saya sibuk berpikir dan bertanya-tanya mengapa bisa jadi begini, mengapa begitu. Sering kali Saya menyimpulkan sediri jawaban dari pertanyaan-pertanyaan random dan gak penting yang muncul di otak Saya melalui apa yang Saya amati.
Setiap hari yang Saya temui kebanyakan adalah anak kecil dan anak remaja, dengan segala macam tingkah dan perilaku yang berbeda-beda. Anak-anak yang lahir di kota besar dalam sebuah keluarga yang (dibilang) modern. Keluarga? Yap...terutama orangtua. Aahaahahaha...seharusnya Saya tidak usah memperdulikan urusan keluarga mereka, karena Saya tidak dibayar untuk itu. Tetapi menurut Saya hal-hal ini cukup menarik untuk diperhatikan dan dijadikan bahan pelajaran jika kelak Saya memulai hidup baru, sendiri.
Kenapa Saya fokus kepada orangtua? Kenapa tidak belajar bagaimana caranya membentuk anak impian? Karena kelak Saya juga akan menjadi orangtua. Dan anak impian yang kita inginkan itu diturunkan dari orangtua impian. Kebanyakan dari orang tua berkata kepada anaknya yang sudah dianggap cukup dewasa “kamu itu seharusnya begini, jangan begitu!” mencoba merubah perilaku seorang anak tanpa pernah bertanya “mengapa dia jadi begitu?” atau seharusnya para orangtua bertanya lagi pada diri mereka sendiri  apakah selama ini Saya sudah memberi contoh seperti itu?
Saya hanya mengamati keluarga mereka (dan keluarga Saya) dan mencoba menganalisa dan menebak-nebak jawaban dari pertanyaan yang sering muncul di benak Saya
mengapa anak ini bisa jadi begini ya?
Ternyata pepatah “buah jatuh tidak jauh dari pohon” atau “like father like son” benar adanya. Inilah yang seringkali Saya temui hampir setiap hari dan membuat Saya ingin tertawa sendiri, karena anak-anak yang menyebalkan ternyata memiliki orang tua yang lebih menyebalkan juga. Dan sebaliknya anak-anak yang menyenangkan ternyata orangtuanya pun juga menyenangkan. Meskipun pada sebagian kecil Saya temukan ada kasus-kasus unik. Is it genetic?
Lalu apa yang dimaksud dengan orangtua impian? hal ini sulit untuk didefinisikan, apalagi diwujudkan. Selama hampir 10 tahun berkecimpung di dunia anak-anak, Saya menyadari bahwa tidak gampang menjadi orangtua. Saya banyak bertanya kepada anak-anak yang saya temui, kira-kira seperti apa orangtua yang mereka impikan? Ini merupakan pertanyaan sensitif bagi sebagian besar anak-anak kota, termasuk Saya. Karena kenyataannya adalah kebanyakan anak (masih) merasa kecewa pada orangtuanya, meskipun (menurut) orangtuanya mereka sudah memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya.
Darimana ini semua bermula? Tadinya Saya pikir mungkin konflik-konflik antara anak dengan orangtuanya terjadi karena perbedaan generasi. Anak hidup di jaman yang sangat berbeda dengan orangtuanya. Hal inilah yang kurang disadari dan diperhatikan oleh orangtua yang stress karena sibuk bekerja untuk menafkahi keluarganya. Satu hal yang perlu Saya ingat nanti, jika Saya sedang stress karena urusan pekerjaan yang menumpuk di kantor adalah “Jangan menambah masalah di rumah, karena anak Saya jauh lebih stress dari Saya” mungkin kalimat itu bisa membantu Saya untuk menjadi orangtua yang lebih sabar.
Bukankah kita semua rela berkorban apapun demi anak kita? Banyak hal yang bisa dipilih, seringkali kita salah memilih, karena berpikir itu baik untuk anak-anak. Memang sulit menjadi orangtua, dan itu merupakan bagian dari rangkaian proses kehidupan yang rumit. Seperti pohon yang akhirnya berbuah, tentunya semua orang ingin menikmati buah yang manis, meskipun untuk menghasilkannya harus melalui proses yang sulit, lama dan melelahkan. Anak adalah buah, pepatah mengatakan kita akan menuai apa yang kita tabur. (ya iya lah, mana mungkin menanam tomat, yang dipanen adalah melon, kecuali kita memanen dari kebon tetangga. ya kali....hehehe).
Suatu hari di tengah ramainya ibukota (yang Saya tidak ingat kapan tepatnya) Saya berkenalan dengan sekelompok orang yang hobi berkebun. Mereka semua orang-orang yang luar biasa dan penuh semangat.
Sepertinya kegiatan mereka menarik, mudah dan menyenangkan” pikir Saya.
Kemudian setelah memperhatikan dan mempelajari sedikit ilmu dari mereka. Saya pun mencoba berkebun sendiri di Rumah.
Berhasil?
tentu saja tidak. hehehe..
Ternyata berkebun itu tidak semudah dan semenyenangkan yang Saya lihat. Tetapi kegiatan ini sangat menarik bagi Saya, karena dalam prosesnya ada banyak hal yang bisa Saya pelajari. Seperti yang semula Saya tuliskan di awal, yang harus selalu diingat adalah “sebelum menilai hasil akhir, lihat dan pelajarilah prosesnya yang rumit!”. Di luar semuanya itu, have fun and enjoy your life!
Het leven is een geschenk.
Veel plezier!

------------------ Garis Batas ---------------------

Ini adalah garis batas dari ke-random-an isi blog Saya.
Postingan setelah ini akan Saya isi dengan pelajaran berkebun.
Whaaatt?? (ngebayangin mata kuliah Dasar-dasar Agronomi dan Hortikultura).
Bukan gitu, maksudnya pelajaran-pelajaran sederhana tentang hidup yang Saya dapatkan dari pengalaman Saya sebagai seorang unskilled gardener, haaahahahahaaahh...



Terhitung sudah hampir 9 bulan Saya bergabung ke dalam komunitas @JktBerkebun yang merupakan salah satu jejaring dari @IDBerkebun wuiiiiiiihhh....ternyata berkebun itu gak semudah yang dilihat, tapi tetap aja seru. Seru banget!!! Salah satu obat stress yang paling mujarab.



"Who need a therapist? When you do gardening, you'll get free veggies" :)

Truth is Stranger than Fiction

"It's no wonder that truth is stranger than fiction. Fiction has to make sense". - Mark Twain

Sudah lama Saya nggak nulis cerita fiksi ya (tapi di blog Saya yang di Wordpress sih isinya cerita fiksi semua, kalau yang blogspot ini memang isinya random, seperti isi otak pemiliknya, haaahahaaha...) Entahlah,mungkin karena akhir-akhir ini Saya sedang sibuk belajar menulis screenplay untuk film, jadinya feel untuk menulis #FF sekarang lagi kurang dapet. Saya suka menulis fiksi, karena isinya yaaa....hanya imajinasi yang gak penting, namanya juga cerita fiksi. Tapi kadang-kadang sih ada kebenaran terkandung atau curcol yang tersembunyi di dalam sebuah kisah fiksi. Haaahahahaa.... Berikut ini ada flash fiction yang sayang kalau dibuang. Tadinya diikutsertakan dalam project menulis #AntologiRindu di blognya temen Saya si @sinshaen Cuma berhubung yang ini gak masuk final, jadi Saya posting di blog aja, daripada cuma kesimpen di Laptop yang jarang dibuka...kisah ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama, tempat, dan peristiwa mungkin penulisnya sengaja  ;p #eh

#FlashFiction         RESIGN




Hari ini hari Rabu, dan aku bangun terlambat. Baru semalam aku mendarat di Jakarta dan pagi ini aku harus kembali bekerja lagi. Aku berlari memasuki lift dan menekan tombol 26 di sudut dindingnya. Sesampainya di kantor, suasana terasa begitu hening seperti ruang kelas saat sedang ujian.
Beeeuh.... Sampai kapan kubikel sebelah lo kosong, bro?” tanyaku pada Andy.
Staff audit junior itu hanya mengangkat bahu sambil menunjukkan wajah lesu, tanpa mengucap sepatah kata pun. Kemudian kembali sibuk dengan tumpukan file-nya.
Aneh, ini kan bukan hari Senin. Kenapa wajah orang-orang di kantor ini serius banget sih?” gumamku dalam hati sambil menghidupkan layar komputerku.
Aseeeeek...yang abis cuti ke Bali. Mana nih oleh-olehnya?” Goda Mike, sambil menyerahkan tumpukan file laporan hasil survey yang harus segera ku analisa.
Apanya yang cuti, Pak? Baru juga gue nginep semalam di Ubud, udah ditelpon aja sama orang cabang buat bantuin proyek mereka. Boro-boro shopping beli oleh-oleh, Mike. Coba lo bayangin, ke toilet aja gue nggak sempat!” protesku kesal.
Yaudah sih Bu...Masih pagi nih, curcolnya dilanjut entar aja pas kita lunch bareng. Tuh ada kerjaan tambahan dari Pak Boss. Katanya gue disuruh taro di meja elu aja gitu, Grace.” Jelas Mike sambil tersenyum penuh makna.
Lhaaaa...ini kan file hasil laporan auditor, kok dikasih ke gue sih? Bang Roy mana? Belom balik-balik juga tuh orang? Enak ya jadi asisten manager bisa cuti panjaaang” sindirku.
***
Lima hari yang lalu.
Usai makan malam aku berdiri sendirian di tepi jalan sibuk memperhatikan peta sambil memikirkan cara tercepat untuk kembali ke homestay tempatku menginap.
Masak gue harus pulang jalan kaki sih? Mana hari ini gue pake heels pula.” pikirku dalam hati.
Tiba-tiba suara motor dari belakangku mendekat dan berhenti satu meter di depanku, kemudian pengendaranya bertanya,
Lagi nyari ojek, Neng?
Aku pura-pura sibuk membaca peta seolah-olah tidak mendengarnya.
Kok malam minggu sendirian aja, mana pacarnya?” tanyanya lagi.
Aku mengacuhkan pertanyaannya dan bersiap-siap lari kembali masuk ke rumah makan vegetarian yang ada di belakangku, kalau-kalau orang ini berani berbuat macam-macam. Tapi suaranya terdengar tak asing di telingaku. Dengan wajah tak bersahabat ku lirik orang yang sedang membuka helmnya.
Grace, ayo cepat naik! Biar ku antar kau pulang” perintahnya sambil menyodorkan helm untuk penumpang.
Bang Roy ??? Astaga, gue kirain lo tadi tuh abang tukang ojek yang suka iseng atau orang mabok yang suka gangguin cewek gitu. Gue udah ketakutan aja. Ngapain lo disini, Bang? Ngaudit? Survey? atau ikutan proyek juga?” tanyaku penasaran sambil mengenakan helm dan duduk di kursi belakang.
Liburan lah, udah tiga hari aku sendirian di Bali. Kau hari gini masih kerja aja?
Sebenernya gue tadinya juga lagi cuti, tapi tiba-tiba dihubungi sama kantor cabang
Kau nginap di hotel apa sih? Masih jauh dari sini, Grace?
Lumayan jauh sih kalo jalan kaki, Bang. Gue nggak nginep di hotel, tapi di homestay di daerah Ubud
Ubud? sebelah mananya? Aku pun juga nginap di daerah Ubud
Gak ingat, gue baru semalam nginap di situ, Bang. Pokoknya jalan masuknya yang ada restoran Pizza Italiano gitu deh
Oooh...disitu rupanya. Taunya aku.
***
Tiga hari kemudian.
Bang Roy, makasih yah udah nganterin aku ke bandara dan bantuin aku selama dinas di Bali. Kapan-kapan kita cuti ke Lombok bareng, yuuuk!
Siiip! Baik-baik kau yah di Jakarta. Nanti malam telpon aku kalau sudah sampai!
“Okay, siiip...!” Jawabku sambil tersenyum dan sedikit merasa sedih.
Perpisahan selalu ada, meskipun hanya sementara. Rasanya aku belum rela untuk terbang meninggalkan Pulau Dewata ini. Meskipun liburanku terlalu singkat dan sedikit terganggu oleh urusan pekerjaan, namun petualanganku bersama rekan sekantorku kali ini terasa sangat berkesan dan hangat. Sepertinya lumayan cukup untuk mengusir penat yang selama ini mengisi kepala kami di Kantor. Biasanya di Jakarta kami berdua jarang mengobrol walau satu ruangan, sibuk dengan tumpukan pekerjaan masing-masing. Kalau bertemu di meja rapat, kami hanya membahas urusan pekerjaan antar divisi. Bang Roy lebih sering pergi makan siang bersama Andy, sedangkan Aku kemana-mana selalu ditemani oleh Mike, seniorku. Tetapi pertemuan yang tidak disengaja selama beberapa hari ini tiba-tiba membuat hubungan kami terasa berbeda. Mungkin karena beberapa hari ini kami banyak menghabiskan waktu bersama untuk bersenang-senang dan mengobrol tentang kehidupan pribadi masing-masing. Di luar urusan pekerjaan, hubungan emosional kami menjadi lebih dekat, sepertinya chemistry kami cocok. Tapi sayangnya ada peraturan kantor yang melarang berpacaran dengan rekan satu perusahaan.
Jangan bilang-bilang ke Boss yah kalau aku masih di Bali!” pintanya.
Iya Bang, sampai ketemu di kantor pusat. Buruan balik ke Jakarta!”
“Aku masih banyak urusan, Grace.” jawabnya sambil tertawa.
Halaaaah.....urusan apaan lagi, Bang? Cari cewek bule buat dijadikan istri?
Aku cinta produk dalam negri, kali. Lagian ngapain nyari jauh-jauh segala, yang dekat pun juga ada kok.
Dia tersenyum sambil menatapku selama beberapa detik, lalu memelukku dengan erat dan mencium keningku. Petugas bandara nampaknya iri melihat kami berdua berpelukan mesra di depan pintu keberangkatan Bandara Ngurah Rai.
***
Yaudah sih Bu...Masih pagi nih, curcolnya dilanjut entar aja pas kita lunch bareng. Tuh ada kerjaan tambahan dari Pak Boss. Katanya gue disuruh taro di meja elu aja gitu, Grace.” Jelas Mike sambil tersenyum penuh makna.
Lhaaaa...ini kan file hasil laporan auditor, kok dikasih ke gue sih? Bang Roy mana? Belom balik-balik juga tuh orang? Enak ya jadi asisten manager bisa cuti panjaaang” sindirku.
Udah gak usah nyari-nyari si Roy lagi. Emang lo belom tau, Grace?” tanya Mike.
Belom! Emang ada apaan sih? Boss abis marah-marah? Kok lu orang mukanya pada asem semua?
Iyeee...doi marah besar gara-gara si Roy ngajuin resign mendadak.
Whaaaattt? Resign??!” aku berteriak karena terkejut.
Andy, si Pak Mike nih lagi bohongin gue apa nggak sih?” teriakku lagi.
Ssssst....Jangan ribut-ribut, Grace. Nanti si Boss denger! Dan gue nggak mau kena semprot lagi. Nanti aja gue ceritain pas jam makan siang.” Jawab Mike penuh emosi sambil sibuk mencetak laporan bulanannya.
***
Rabu siang, di foodcourt sebuah Mall, langit tak seterang biasanya. Matahari terlihat sedikit bersahabat.
 Jadi lo ketemu Roy waktu lo di Bali kemaren, Grace?” Tanya Mike sambil menyendok nasi putih dan potongan chicken katsu dari piringnya.
Iyeee...dan akhirnya setelah kerjaan gue beres gue diajakin jalan-jalan sama dia ke pantai, ke sawah, ke gunung, ke danau. Aaaarrgh...Mike, ternyata dia orangnya romantis bangettt! Rasanya gue jadi pengen balik lagi ke Bali deh, pengen liburan berdua dia lagi. So sweeeet...!
Parah lo, bulan depan dia udah mau married kali. Jangan gangguin calon suami orang, Grace!” Mike berkata dengan wajah serius sambil menyeruput gelas greentea-nya dengan terburu-buru.
Haaah? Nikah? Serius lo, Mike?” tanyaku dengan nada tak percaya.
Emangnya pernah gue ngasih info gak bener ke lo? Udah jam 1 kurang nih, Grace. Buruan habisin mangkok ramen lo! Nanti si Boss bisa ngomel-ngomel lagi kalo kita telat nyampe di ruangan meeting” perintah Mike.
Sedetik kemudian selera makanku mendadak hilang.
 


Selasa, 26 November 2013

it's Almost Four Months

4 Bulan yang lalu Saya melakukan sebuah "hal gila" yang luar biasa (kata orang-orang di sekitar Saya). Tapi menurut Saya sih hal itu biasa saja. Potong rambut! Bukankah itu biasa? Hampir semua orang pernah potong rambut, lalu kenapa mereka jadi sangat heboh dan menyayangkan tindakan Saya itu? Hmmm.... mungkin karena mereka pikir Saya tidak akan pernah melakukannya. memotong pendek rambut Saya. Sependek apa sih? haaahahaha.... ya, sependek ini...

Okee....jadi waktu bulan Agustus Saya ke Salon,
tukang potong rambutnya pun kaget ketika Saya menunjukkan foto Emma Watson.
"Saya mau potong model kayak gini, bisa kan?"
"Serius mau sependek ini, mbak?"
"Iya....memangnya kenapa?"
"Gak sayang sama rambutnya?"
"Nggak...potong saja, mbak. Saya bosan tiap bulan harus hair spa, maskeran, dll. Lagian rambut Saya ini sudah rusak, Saya juga udah males nyisir, jadi kusut-kusut nggak jelas"
kemudian dia pun menjalankan perintah dengan ragu-ragu, alhasil rambut Saya tidak mirip Emma Watson, tapi malah jadi seperti Halle Berry. Haahahaaha...dan orang-orang sejak hari itu memanggil Saya dengan nama "Halle Berry" atau "Jane Berry" mereka bilang Saya jadi mirip sekali dengan pemeran tokoh agen rahasia di film James Bond itu. Haahahaaaha...

Ternyata rambut pendek lebih boros shampoo, tiap hari saya cuci rambut 2x kadang 3x karena tidak betah keringetan. Biasanya keringetan pada rambut panjang keringatnya menempel di rambut, kalau ini keringatnya langsung menetes atau mengenai kulit, dan wajah terasa lengket. jadi Saya tidak betah dan segera mencucinya agar wajah Saya terasa segar kembali. Kemudian yang jadi masalah, tiap hari Saya harus mengenakan wax/gel rambut untuk menata rambut agar terlihat keren. (Soalnya kalo Saya nggak pake gel, pada protes, halle berry kok rambutnya gak pake gel hari ini?) hadeeeeuh....sejak kapan mereka jadi terlalu memperhatikan penampilan Saya. Dan tiap bulan ternyata rambut Saya tumbuh dengan sangat cepat, akhirnya bulan lalu Saya potong lagi, kali ini bukan model emma watson atau halle berry lagi, tapi Saya hampir membuat kepala Saya botak. Karena Saya lelah, lelah mengurusi rambut.
Yepp...itu alasan utama Saya potong rambut, Saya Lelah, haahahahaha...
meskipun sebagian orang mengira Saya sedang stress atau sedang patah hati, lalu potong rambut.
terserah, Saya tidak peduli. Yang penting sekarang Saya tidak perlu lagi repot-repot menyisir kepala Saya yang hampir botak ini
yaaaah....kadang-kadang Saya rindu juga sih dengan rambut panjang Saya, hehehe....tapi Saya lebih suka rambut pendek, karena dengan rambut tomboy seperti ini, Saya jadi merasa lebih aman kalau jalan sendirian di malam hari, gak ada lagi cowok iseng yang suka gangguin "darimana neng? kok sendirian aja?" haahahaha.