Rabu, 13 Februari 2013

#Cerpen : Dua Pasang Sepatu



Sebentar lagi tanggal 14 Februari akan tiba. Seluruh kelas di sekolahku sedang sibuk mempersiapkan pentas seni untuk perayaan hari Valentine nanti. “dududum...dudum...dudum... dum... bang....bang....bang.... cas...cas.....jreeeenggg...!”
Di kamar yang terletak di ruang bawah tanah, Aku menabuh drum set yang ku pinjam dari Jack, teman sekelasku, dengan penuh semangat. Tanpa sadar, sudah 3 jam aku berlatih sendirian di dalam ruang bawah tanah yang gelap, pengap, dan sunyi ini. Karena lapar, aku pun keluar dari kamarku, menaiki tangga menuju dapur. Aku mengambil beberapa potong pizza yang tersisa lalu memasukannya ke dalam microwave untuk dipanaskan, beberapa menit kemudian aku menikmati makan malamku itu sendirian.
Aku memang selalu sendirian di rumah sejak Liz, kakak perempuanku satu-satunya, meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas 3 tahun yang lalu. Kedua orangtuaku adalah dua orang kepala pabrik kertas yang sangat sibuk. Hampir setiap hari mereka selalu pulang larut malam saat aku sudah tidur, dan setiap pagi aku, anak remaja mereka yang masih berumur 11 tahun ini, bangun lebih dulu untuk berangkat ke sekolah bersama Matthew, anak tetanggaku.
Setiap pagi aku hanya sempat melihat dua pasang sepatu di depan pintu kamar kedua orangtuaku. Aku tidak tega membangunkan mereka yang masih terlelap, mereka nampak lelah sekali setiap kali pulang dari bekerja. Jika aku butuh sesuatu untuk disampaikan ke mereka, aku akan menuliskan pesan di atas secarik kertas, lalu menempelkannya di pintu lemari es.
Mom, Dad...
I have a talent show on February 14, 6 pm  at school.
If you have time, please come to see me. Thanks”.
***
Setiap akhir pekan, Mom selalu bangun lebih awal. Dia sibuk menyiapkan sarapan untuk kami. Sementara Dad masih tertidur pulas di atas sofa di depan TV, dan aku sibuk memukul-mukul tepi meja, mulut gelas, piring dan tutup panci aluminium dengan menggunakan sepasang sumpit, membayangkan diriku sedang memainkan drum di atas panggung pertunjukan.
Son, can you stop that annoying sound?” teriak Dad dari balik sofa.
Ternyata permainan drum a la kitchen-ku membangunkan Dad dari mimpi indahnya. Mom hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
Tom, can you help me to wash these all?” pinta Mom sambil menunjuk ke arah tumpukan cucian piring.
Ooh..okay!” Jawabku sambil tersenyum dan berlari ke wastafel.
Aku mencuci beberapa piring kotor sambil menguping percakapan antara Mom dan Dad.
Mom : “it’s okay honey, he just did some practice for his show next Tuesday
Dad : “yeah, it’s okay, but why he didn’t choose to play a piano or a guitar maybe? they sound better.
Mom : “well... whatever, we’re gonna come to see him this Tuesday night, right?”
Dad : “What? This Tuesday? Oh...no...Sweetie, we have an important meeting with the new vendor. They invite us to their house a dinner.”
Mom : “Ooh..come on, Honey. we can go to their house after the show, why not?
Dad : “Uuumm...I’ll think about it again later, Sweetie. I’m so hungry right now!”
***
Senin ini aku dan Matthew menjadi sangat sibuk berlatih di kelas musik Miss Susan.
Matt, will your parents come tomorrow night?” tanyaku sambil berdiri di samping grand piano yang sedang dimainkannya.
Sure, they said they were so proud of me. They really wanna see me play the piano on the stage” jawabnya bangga.
That’s good, dude” jawabku sambil tersenyum.
Orangtua Matt hanyalah buruh pabrik biasa, mereka tidak sesibuk orangtuaku, mereka bisa pulang lebih awal dan punya banyak waktu untuk anak-anaknya. Aku lalu membayangkan jika Mom dan Dad datang menonton pertunjukan musik dari kelas kami, apakah mereka juga akan bangga melihatku yang hanya memainkan drum. Lagipula aku pasti tidak terlihat karena posisiku terletak di pojok kiri belakang.
Hey dude, are you okay?” pertanyaan Matt membuyarkan lamunanku. “Yeah...I’m good. I just..umm...” jawabku sambil melirik jam tangan yang sudah menunjukan pukul 7 malam. “let’s go home now. I feel so hungry and tired today”.
Kami berdua sampai di rumah masing-masing sekitar pukul setengah delapan malam. Aku menghabiskan kentang tumbuk dingin yang disimpan Mom di dalam lemari es. Setelah itu aku naik ke atas menuju kamarku. Di depan pintu kamar orangtuaku belum ada dua pasang sepatu, tanda mereka belum tiba di rumah. Biasanya baru besok pagi aku melihat dua pasang sepatu itu saat aku akan berangkat ke sekolah.
***
Akhirnya setelah pertunjukan drama Romeo and Juliet dari kelas senior selesai, giliran kelas kami yang akan menampilkan sebuah lagu. Aku gugup saat kami berbaris menaiki panggung, lalu berusaha melihat ke arah kerumunan penonton yang sebagian besar adalah keluarga kami. 
Sejenak aku berpikir apakah Dad dan Mom sedang duduk menonton dan melihat ke arahku?
Sudahlah, mungkin mereka tidak bisa datang, Tom” kataku dalam hati mencoba menenangkan diri. Tapi aku merasa mereka sedang melihat ke arahku, jadi aku tetap berusaha memberikan permainan drum terbaikku malam ini.
Matt memulai permainan pianonya, aku fokus ke permainan drumku, dan anak-anak lainnya menyanyikan lagu kami dengan baik. Usai lagu kami berhenti, kami semua berbaris lagi. kemudian membungkuk memberi hormat ke arah penonton, lalu berjalan keluar dari panggung melalui pintu belakang.
You did it great, kids. All of you!” Miss Susan tampak terharu dan ia berlari ke arahku lalu memberikan rangkaian bunga mawar kepadaku. Dia bilang orangtuaku mengirimkannya tadi sore sebelum mereka pergi makan malam dengan client barunya. Miss Susan memelukku sambil menangis, lalu dia membisikan suatu kejutan.
***
Mom, Dad...I just missing you now!” bisikku sambil menangis memeluk rangkaian bunga mawar dari mereka yang bertuliskan
Happy Valentine’s Day, Tom..
we’re so proud of you, son.
We love you, always! 
Diluar dari berita kejutan menyedihkan yang disampaikan oleh Miss Susan usai pertunjukan tadi, pertunjukan kami malam ini bisa dibilang sempurna.
 Aku rasa Mom dan Dad juga melihatku tadi di atas panggung, meskipun aku tak menemukan mereka di tengah kerumunan kursi penonton. Aku menenggelamkan diri di balik selimut, berusaha menenangkan dan meyakinkan diriku bahwa aku tidak sendirian.

I hope you’re up there with God, saying “That’s my kid!”
I still look for your face in the crowd.
Oh...if you could see me now...
Oh, if you could see me now...
It was February fourteen, Valentine’s Day.
The roses came, but they took you away.
Gotta keep my self calm, but the truth is you’re gone.
If You Could See Me Now – The Script

Malam itu aku pulang ke rumah diantar oleh Miss Susan. Aku tidak lapar, sehingga aku langsung naik ke atas. Seperti biasa belum ada dua pasang sepatu di depan kamar orangtuaku. Dan mungkin dua pasang sepatu itu tidak akan pernah kulihat lagi besok pagi ataupun di hari-hari berikutnya.

Selasa, 12 Februari 2013

Voila.... 2013

Happy belated new year....and Happy Valentine's Day :)
it has been a long time ya I didn't write here.....hehehe...

Pagi ini seperti biasa Saya berangkat ke kantor. Namun hari ini rasanya ada yang berbeda. Bukankah setiap hari selalu berbeda? ya memang...tapi hari ini terasa lebih sepi, tidak seperti biasanya. Entahlah, mungkin ini hanya perasaan Saya saja. *random*