Minggu, 24 Januari 2016

Page 23 of 366 Days #journal

Deket rumah gue ada apartemen kecil, nggak terlalu ramai sih. Cuman dari dulu gue ngincer foodcourt yang di Lobby pintu masuknya. Cuma tempat itu selalu penuh, jadi gue waiting list doang. Akhirnya penantian gue yang panjang selama bertahun-tahun terjawab. Orang apartemennya bilang kalo warung Soto sebelah nasi rames udah tutup. Langsung aja gue hubungi temen berkebun gue yang sama-sama punya niat buat jual makanan (soalnya bulan ini pengeluaran gue udah melebihi limit dana darurat). Eh setelah lihat tempatnya kayaknya dia kurang tertarik. Yaudah akhirnya terpaksa deh gue ambil dana dari kantin Rice & Fries yang di sekolah buat bayar sewa lapak di apartemen itu. Yang penting tempatnya udah dapet dulu, dan segera dibayar sebelum ditikung orang lain.
Sebenernya gue masih bingung sih mau jual apaan di apartemen itu, soalnya tahun ini gue emang gak ada rencana buka cabang baru. Jadi ya berhubung ada tempat kosong yang lumayan strategis, gue ambil resiko menjalankan bisnis ini. Kayaknya sih gue sama Sarah mau jualan ice cream, pancake, waffle, takoyaki, okonomiyaki sama mie ramen dan suki. Eh, kita mau jualan roti bakar juga deh kayak Mas Isnan. Doain ya gaes, semoga warungnya banyak rejeki, dan kita nggak pingsan mempersiapkan semua-semuanya sendiri. Kayaknya sih nggak soalnya kita berdua cewek-cewek perkasa. Hahahaha...


Minggu, 17 Januari 2016

Page 17 of 366 Days #journal

Ibu Saya sibuknya sudah seperti orang tua tunggal dan tulang punggung keluarga. Sampai sekarang beliau pun masih produktif dengan keterampilannya membuat gaun dan kebaya untuk acara pesta dan acara nikahan. Setiap siang sepulang dari sekolah Saya membantu ibu memasak nasi, jika sudah terlalu lapar biasanya Saya membuat mie instan atau lauk telur dadar + kornet keju. Atau jika bersabar biasanya Saya dan adik-adik menunggu Ibu pulang untuk memasak menu makan siang kami (kadang-kadang sih beli nasi padang aja kalau lagi banyak kerjaan dan gak sempat masak). Dulu ibu Saya sering memasak sayur oseng-oseng buncis + hati ayam. Biasanya sayur itu terasa manis dan asin karena memakai kecap asin saat menumisnya. Namun ketika Saya mencicipinya hari itu sayur buncis terasa manis seperti sirup obat batuk rasa jeruk. Saya berkomentar "Mah, kok rasanya aneh sih buncisnya? kayak obat gitu". Dan Ibu Saya menjawab "Aneh apanya? udah lah makan aja jangan banyak komentar!" rupanya beberapa hari kemudian Beliau baru menyadari kalau ternyata dia salah mengambil botol kecap asin di kulkas yang bersebelahan dengan botol sirup ABC squash. Hahaha... yaudah lah, gue maapin aja, lagian juga masaknya buru-buru amat. Sampai sekarang pun tiap hari dia masih tetap suka masak buat anak-anaknya, meskipun anak-anaknya udah pada jadi Bang Toyib (baca : jarang pulang).

Sabtu, 16 Januari 2016

Suatu Hari #flashfiction

Suatu hari Saya pernah kehilangan kunci pagar rumah Saya. Keesokan paginya Ibu Saya mengembalikannya di atas meja makan, waktu kami sedang sarapan.

Suatu hari Saya kehilangan sweater favorit Saya. Dua hari kemudian Ibu menemukannya terselip di lemari bajunya, lalu ia menaruhnya di atas tumpukan baju Saya.

Suatu hari Saya kehilangan kartu ATM Saya. Tiga hari kemudian Ibu meletakkannya di atas handphone Saya. "Ini ketinggalan di kantong belanja waktu kemarin kamu ke supermarket, nak." Seketika rasa cemas Saya menghilang, karena Saya belum sempat pergi ke bank untuk mengurus kartu yang baru.

Suatu hari Saya kehilangan kaos kaki Saya yang sebelah kanan. Seminggu kemudian Ibu menemukannya di kolong tempat tidur Saya yang penuh barang usang dan berdebu.

Suatu hari Saya kehilangan payung biru kesayangan Saya. Sebulan kemudian Ibu memasukkannya ke dalam tas ransel Saya. “Kau lupa dan meninggalkannya di kursi Gereja.” jawabnya sambil menggelengkan kepala.

Suatu hari Saya kehilangan charger HP Saya. Saya takut mengatakannya pada ibu, tapi Saya tetap berharap suatu saat barang itu akan ditemukan oleh Ibu. Dan benar saja, tiga bulan kemudian Ibu mengembalikannya lagi. Tidak sengaja terbawa oleh saudara sepupu yang tinggal di luar kota saat mereka menginap di rumah kami.

Suatu hari Saya kehilangan pacar Saya. Malam itu di meja makan Saya nampak pucat dan tak bersemangat menyantap masakan Ibu. Lalu Ibu bertanya, “Apa kau kehilangan sesuatu lagi, nak?”.Saya menggeleng dan tersenyum palsu, sambil berusaha menghabiskan makan malam Saya.

Sejak itu Saya sering melamun dalam diam dan berharap Ibu dapat mengembalikannya. Dia gadis yang baik dan Saya telah menyia-nyiakannya hingga akhirnya dia pun pergi. Saya menunggu sehari, dua hari, seminggu, sebulan bahkan lebih dari setahun. Tapi ibu tetap saja tidak dapat menemukannya. Mungkin benar yang dikatakan orang-orang;
“Nothing is really lost until your mom can’t find it!”
Pacar Saya benar-benar hilang dan tak kembali, demikian pula dengan harapan Saya akan masa depan.

Suatu hari Saya kehilangan pekerjaan Saya. Enam bulan kemudian teman kuliah Ibu menghubungi Saya untuk bekerja di perusahaannya.  Sekarang Saya kembali bersemangat menjalani kehidupan ini meskipun masih sendiri.

Ibu memang luar biasa. Aku yakin jika bersama Ibu semuanya akan baik-baik saja. Saya tidak berani membayangkan bagaimana jadinya hidup Saya jika suatu hari Saya kehilangan Ibu.

I love you, Mom!

-The End-


 sumber gambar : etsy.com

Flash fiction ini ditulis dalam rangka #GiveAway Bareng Elisa dan Immank . Jika kamu tertarik untuk mengikutinya bisa kunjungi blog mereka berdua dan baca aturan mainnya. Hadiahnya banyak dan unyu-unyu lhooo... ^^ jangan lupa ya follow juga twitternya @elisafariesta dan @nfirmansyah_ yang kece dan kekinian! :)

Jumat, 25 Desember 2015

Begin Again

Ini bukan judul film, bukan juga judul lagu. Hanya ingin mulai lagi menulis life journal di tahun 2016. Eh tapi gak usah nunggu tahun baru deh, daripada nanti kelamaan trus basi dan akhirnya lupa kalau mau nulis diary jurnal harian (udah kayak pelajaran akuntansi aja) :D
Gue sebenernya pengen hidup lebih disiplin, lebih rajin dan lebih mandiri, tapi kayaknya tahun ini gak ada kemajuan, yang ada berat badan gue naik 5 kg dari tahun lalu. wkwkwkwkwkwk...
Nah makanya mulai besok gue harus latihan bangun pagi, anggep aja liburan gue udah selesai. huuufftt...padahal besok itu Sabtu lhooo... ya kurang ikhlas aja kalo weekend kudu bangun jam 4 pagi. :(
Mari kita coba. Besok gue rencananya mau nyuci piring, trus masak nasi, nyuci baju, sepatu & kaos kaki. Sama beli kado buat acara hari minggu nih. Semoga malam ini gue bisa tidur nyenyak *olesin Autan banyak-banyak*
Hmmm...semoga besok mood gue bisa stabil yah meskipun lagi kurang tidur & kurang olahraga, & semoga gak terpengaruh oleh cuaca Jakarta yang panas tapi gak hujan-hujan. Dan gak terpengaruh oleh orang-orang Jutek di sebelah gue yang kadang-kadang sering bikin gue lelah....pokoknya inget, ga boleh males. Dan jangan megang hape sebelom kerjaan rumah tangga selesai. hahaha... Mari kita coba, Jane! Ganbatte kudasai...


Selasa, 26 November 2013

it's Almost Four Months

4 Bulan yang lalu Saya melakukan sebuah "hal gila" yang luar biasa (kata orang-orang di sekitar Saya). Tapi menurut Saya sih hal itu biasa saja. Potong rambut! Bukankah itu biasa? Hampir semua orang pernah potong rambut, lalu kenapa mereka jadi sangat heboh dan menyayangkan tindakan Saya itu? Hmmm.... mungkin karena mereka pikir Saya tidak akan pernah melakukannya. memotong pendek rambut Saya. Sependek apa sih? haaahahaha.... ya, sependek ini...

Okee....jadi waktu bulan Agustus Saya ke Salon,
tukang potong rambutnya pun kaget ketika Saya menunjukkan foto Emma Watson.
"Saya mau potong model kayak gini, bisa kan?"
"Serius mau sependek ini, mbak?"
"Iya....memangnya kenapa?"
"Gak sayang sama rambutnya?"
"Nggak...potong saja, mbak. Saya bosan tiap bulan harus hair spa, maskeran, dll. Lagian rambut Saya ini sudah rusak, Saya juga udah males nyisir, jadi kusut-kusut nggak jelas"
kemudian dia pun menjalankan perintah dengan ragu-ragu, alhasil rambut Saya tidak mirip Emma Watson, tapi malah jadi seperti Halle Berry. Haahahaaha...dan orang-orang sejak hari itu memanggil Saya dengan nama "Halle Berry" atau "Jane Berry" mereka bilang Saya jadi mirip sekali dengan pemeran tokoh agen rahasia di film James Bond itu. Haahahaaaha...

Ternyata rambut pendek lebih boros shampoo, tiap hari saya cuci rambut 2x kadang 3x karena tidak betah keringetan. Biasanya keringetan pada rambut panjang keringatnya menempel di rambut, kalau ini keringatnya langsung menetes atau mengenai kulit, dan wajah terasa lengket. jadi Saya tidak betah dan segera mencucinya agar wajah Saya terasa segar kembali. Kemudian yang jadi masalah, tiap hari Saya harus mengenakan wax/gel rambut untuk menata rambut agar terlihat keren. (Soalnya kalo Saya nggak pake gel, pada protes, halle berry kok rambutnya gak pake gel hari ini?) hadeeeeuh....sejak kapan mereka jadi terlalu memperhatikan penampilan Saya. Dan tiap bulan ternyata rambut Saya tumbuh dengan sangat cepat, akhirnya bulan lalu Saya potong lagi, kali ini bukan model emma watson atau halle berry lagi, tapi Saya hampir membuat kepala Saya botak. Karena Saya lelah, lelah mengurusi rambut.
Yepp...itu alasan utama Saya potong rambut, Saya Lelah, haahahahaha...
meskipun sebagian orang mengira Saya sedang stress atau sedang patah hati, lalu potong rambut.
terserah, Saya tidak peduli. Yang penting sekarang Saya tidak perlu lagi repot-repot menyisir kepala Saya yang hampir botak ini
yaaaah....kadang-kadang Saya rindu juga sih dengan rambut panjang Saya, hehehe....tapi Saya lebih suka rambut pendek, karena dengan rambut tomboy seperti ini, Saya jadi merasa lebih aman kalau jalan sendirian di malam hari, gak ada lagi cowok iseng yang suka gangguin "darimana neng? kok sendirian aja?" haahahaha.





Bisa Jadi....Bisa Jadi...

Sebentar-sebentar menghilang, sebentar-sebentar tidak bisa dihubungi.
Bisa jadi Saya sedang tidak di Jakarta, bisa jadi Saya sedang berada di kotamu.
Atau bisa jadi Saya sedang terbaring lemah di Rumah Sakit.
Bisa jadi.....hmmmm......bisa jadi...

Akhir-akhir ini memang Saya lebih suka menyendiri,
mungkin hal ini agak aneh bagi orang-orang yang sudah lama mengenal Saya.
"Heyy...kenapa lo, Jane? Sejak kapan lo suka jalan-jalan ke luar kota sendirian"
"Sombong ya sekarang, gak pernah ngajakin gue jalan-jalan lagi nih"
"Kenapa sih hape lo nggak bisa dihubungi? BBM udh sebulan gak aktif"
"Lo kenapa sih akhir-akhir ini sulit ditemui? Padahal jarang ada di kantor juga"
"Sejak kapan lo jadi betah tinggal di rumah?"
dan masih banyak komentar-komentar lainnya.
Yaaa.....bisa jadi Saya memang sedang tidak ingin ditemui.
atau memang sudah tidak bisa lagi ditemui,
bisa jadi....bisa jadi....

Rabu, 28 Agustus 2013

Petualangan Dora The Explorer (Episode Menjangan Island) #EscapeFromJakarta



Di luar dari kencan yang gagal (cerita sebelumnya) , menurut gue sih petualangan gue selama di Bali sangat seru! (Buat anak jakarta seperti gue yang jarang banget pergi jauh-jauh dari rumah dan kesasar pula di kampung orang, hahahahahaah) Epic! Gue sebut ini petualangan Dora The Explorer (karena kita kemana-mana naik motor cuma bawa ransel dan bergantung pada peta).
Okeee...ceritanya si Bang Roy (orang yang ngajakin gue liburan ke Bali dadakan itu) katanya dia pengen ke Pulau Menjangan. (Btw, gue aja nggak tau ada pulau yang namanya Pulau Menjangan, yaudah gue ngikut aja dah, bang! daripada pusing di Jakarta mulu). Trus sesampainya di Bandara dia jemput gue pake motor, dan petualangan pun di mulai. Pertama, berhubung lagi libur menjelang lebaran, jalanan pun macet. Jadi kita ngelurusin kaki dulu di pantai seminyak, sambil lihat sunset yang biasa aja (lagi nggak fokus ke sunset karena sibuk baca peta). Mana waktu itu gue lagi masuk angin, sakit perut, mabok udara, pusing dan alergi laut *bener-bener stress dan bad mood deh gue*. Dan satu hal lagi, gue lupa kalo di Bali ini banyak anjing loh dimana-mana. hahahahaahaaha... Gue nggak suka anjing, yaudah lah ya...masuk anjing deh gue ntar, minum tolak anjing *apasiiih....gak nyambung. kembali ke peta!
Oke, lanjut setelah jalanan udah nggak macet lagi. malemnya kita nginep di desa Petulu, (ubud, keatas lagi, ini kejadian nyasar yang pertama). Gue lupa deh nama penginapannya kalo nggak salah sih Rumah Sony (setelah gue googling2 lagi ternyata namanya itu Kaleidoscope Community House ( http://kaleidoscopech.wordpress.com/gallery/ ) di websitenya sih gambarnya keren-keren dan artistik, ahahahahahaah...emang sih unik gitu tembok rumahnya penuh dengan tulisan dan lukisan-lukisan, sampe di kamar mandi pun juga dilukis-lukis abstrak warna-warni gitu (tapi jadi serem dan agak horor sih menurut gue, hihihi). Trus karena belakangnya ada small garden gitu, jadi dingiiiin banget (buat gue yang terbiasa tinggal di jakarta yang panasnya menggila). Gue aja tidur pake kaos 2 lapis dan jaket 2 lapis + kaos kaki. Ahahaahhaha....mana malemnya perut gue bunyi2 gara gastritis gue kambuh dan lagi malas makan (cuma minum air panas + jahe doang yang dibuatin sama si roy sebelum tidur) *so sweeett! Ditambah suara mesin air yang suka bunyi-bunyi dan lolongan anak anjing di belakang rumah...mimpi buruk! Gak bisa tidur deh gue malam itu, bbrrrrr...! *tarik selimut*
Pagi-paginya (this is the craziest day) tararaaa....! Berhubung udah lapar karena semalam nggak makan malam, kita berdua muter-muterin sawah sambil nyari warung makan yang jual sarapan. Trus di jalan kita nemu tulisan ini.
(note : semua gambar di dalam postingan ini gue search dari google, karena waktu itu gue malas ngeluarin dan megang hape. yaaah...kira-kira seperti itulah pemandangan yang gue lihat selama beberapa hari di Pulau Dewata).
Habis itu nyasar-nyasar ternyata kita nyampe di Ubud, masuk deh kita ke pura yang banyak monyet-monyet ituuuu... (Monkey Forest).

enak kali yah magang jadi monyet disini tiap hari dikasih makan dan difoto2 sama turis-turis. hihihi... *random*
Abis itu siangnya makan siang makan bareng Stefani dan Andre (temen-temennya bang roy), di Rumah Makan Padang Putri Minang di daerah Ubud (btw ini bule-bule demen juga ya makan nasi padang, haahahahaha).

Gue sih nggak terlalu suka karena lagi sakit perut, you know lah masakan padang is so spicy! Gue suka makanan pedes, cuma perut gue yang nggak kuat, hahahhaahaha... yaudah, berhubung gue juga alergi ikan dan lagi sok-sok jadi vegetarian, jadinya gue cuma makan nasi merah, sayur sama perkedel aja, eh sama peyek udang juga deh. Gue nih alergi seafood tapi paling gak tahan kalo lihat udang sama cumi nganggur, apalagi kerupuk udang, bodo amat deh, hahaahaaha. btw ini tadi perjalanan dari Monkey Forest sampe restoran padang juga nyasar muter-muter, hahahahaaha... Yang gue suka dari restoran padang ini adalah temboknya, karena berwarna orange :) *random*
Naaah....setelah jam 2 siang, barulah petualangan kami ke Pulau Menjangan di mulai. Ayo ambil ransel dan peta! *Dora The Explorer mode : ON
Kita akan melewati gunung, danau dan pelabuhan :D
actually I have no Idea pulau menjangan itu dimana, setelah gue lihat peta...haaaks! *pingsan
yaaa....kurang lebih yang gue tandain pake warna merah itulah yang gue lewatin selama 3 hari naik motor berdua si roy. Maklum nilai geografi gue dari SMP nggak pernah bagus, jadi yaaa.....harap dimaklumi kalo gue blind map syndrome >.<
waktu berangkatnya itu lewatin gunung-gunung gitu, kebetulan sih mataharinya lagi cerah, tapi tetep aja jalan raya yang menuju bedugul ke atas itu dingiiiiiiiin! *peluk erat-erat* (FYI, selain alergi seafood gue juga alergi serangga dan alergi dingin, phobia laut, phobia naik motor dan phobia menikah, hahahahaaha...banyak amat sih).


Di deket danau Bayan sekitar jam setengah 5 kita berhenti sebentar sambil makan bakso (laperrr bo!), dan kuah baksonya pun langsung dingin kalo nggak cepet-cepet dimakan. hihihi :D dan pas sunset juga berhenti sebentar di pantai Lovina (yang kata murid gue sih kalo pagi-pagi banyak lumba-lumba disitu) or pantai apa ya, ga tau namanya deh gue, pokoknya itu di ujung utara pulau bali. Langitnya bagus bangeeeet! sayang gak ada fotonya, males ngeluarin hape dari dlm ransel. Lanjut lagi deh menuju “Labuhan Lalang” yang katanya peta sih ini tempat buat nyebrang ke pulau menjangan gitu. Tapi udah jam setengah 9 malem kita nggak ketemu-ketemu deh papan petunjuk seperti gambar yang di bawah ini.
Padahal udah dekat, kita nyasar bolak-balik arah dan tanya sana-sini. Karena udah gelap juga kali yaa... Sumpah, horror banget, hutan-hutan berkabut, gak ada tanda-tanda kehidupan. Gila gue nggak nyangka kabur dari Jakarta dan berpetualang sejauh ini, haahahahaha :D Salut deh sama bang roy yang 7 jam lebih ngendarain itu motor (Capek gak bang? kalo capek sini gue pijitin). Gue rasa kalo motornya bisa ngomong, dia bakal bilang dia nggak mau lagi kali ya ditumpangi sama kita berdua, hahahaahaahaah... Untung ada 2 orang pemuda setempat yang nawarin nginap di rumah mereka, dekat situ juga sih. Akhirnya gue nemu kasur juga, udah pengen langsung merem aja rasanya. Badan gue dari leher, punggung, sampe kali rasanya pegel banget. Tangan dan wajah hampir beku karena dingiiiiin >.< (btw tempat nginep yang kedua ini lebih horror deh, masak kamar mandinya gak ada kuncinya, kamarnya juga nggak ada kuncinya, dan atapnya langsung genteng gitu. Hadeeeew....gue takut ada laba-laba or serangga apa gitu yang jatoh dari atas pas gue lagi tidur nanti). Tapi seru sih, soalnya pas malem-malem itu si roy nyuruh gue keluar, padahal gue udah ngantuk. Ternyata di atas langit itu banyak banget bintangnyaaa... huwaaaa....keren! baru kali ini gue lihat bintang sebanyak sebagus dan sejelas itu, haahahahahaah.. *norak
kira-kira kayak begini, tapi lebih cerah langitnya, jadi jelas banget dan baguuuus! keren deh pokoknya. Habis itu gue masuk kamar lagi, mau tidur duluan deh karena udah ngantuk banget. Selanjutnya kejadian-kejadian sampe gue bangun dan mandi pagi nggak usah diceritain deh ya, Haahahahaa... *sensor bagian-bagian yang gak penting*
Daaaan....akhirnya nyampe juga ke Labuhan Lalang (ada fotonya sih di hape gue, cuma males mindahin, kabel data ilang). Oke, kita sarapan dan abis itu naik perahu, nyebrang, sampe deh!

 Pantainya jernih banget, karena nggak ada pasirnya. Kelihatan semua deh itu ikan-ikan sama terumbu karang yang di dasar laut. Yang di bagian biru muda itu masih nggak dalem, nah pas gue dibawa sama si guide-nya ke bagian laut yang warnanya biru tua, OMG, itu dalem banget. Mati lah gue! Gilaaaa....bagus bangeeett! Tapi sayang ombaknya gede and the worst part is “gue gak bisa berenaaaaang!”. Pake pelampung sih, cuma ya namanya juga phobia laut, panik lah gue pas dibawa ke wilayah yang warnanya biru tua itu. Mana tangan gue dilepas lagi, jadi terombang-ambing lah gue di tengah laut itu. OMG...OMG...matilah gue, sempet panik tapi akhirnya gue berusaha menenangkan diri dan sebisa mungkin nahan napas. Untung gak masuk deh itu air ke paru-paru gue (trauma pernah tenggelam waktu SD dan SMP). Yaudah, abis itu gue minggir ke pantai dan naik ke kapal. dan si roy masih asik nyelam-nyelam sendiri, biarin ajalah..seneng kali dia kelihatannya, emang hobi sih dia. Kalo gue bukannya gak suka pantai, cuma gue trauma aja, hehehe. Dan gara-gara petualangan ini, sepertinya phobia gue sedikit berkurang.
Tapi sayang gak punya kamera underwater, bagus banget loh pemandangannya...airnya jernih! Sayang gue gak lihat ikan nemo yang lucu itu, dan gak lihat menjangan.

Gimana sih, katanya pulau menjangan, kok ngumpet menjangannya? hehehe...

Eniwei, gara-gara petualangan ini gue sekarang jadi tau gimana caranya baca peta sambil naik motor, haahahaha. Thanks a lot, bang roy! *peluk erat*

Dan satu hal yang membuat gue merasa berdosa banget adalah selama disana gue makan daging! *batal deh gue jadi vegetarian gara-gara makan baso mulu dan nasi campur yang ada babi gulingnya :D sumpah, enak dan murah banget! Masak 2 porsi nasi campur sama 2 teh tawar hangat cuma 12 ribu? di Jakarta beli minum aja 18 ribu segelas. Haahahahahahaah...

 btw pas pulang dari pulau menjangan, sayang sekali cuacanya buruk, gerimis dan akhirnya hujan deh, jadi gue gak bisa lihat pemandangan karena harus berlindung di bawah jas hujan >.< Pemandangan terakhir yang gue lihat adalah teras-teras padi di Jatiluwih, deket Tabanan situ. Keren bangettt!

Dulu pernah lihat terasering yang semacam ini di Bandung, tapi yang ini jauh lebih keren dan mengagumkan. Awesome! Huwaaaaa.....rasanya gue gak mau pulang ke Jakarta.