Jumat, 29 Januari 2016

Page 29 of 366 Days #journal

Saya kangen seorang teman yang dulu Saya sering main ke rumahnya untuk melakukan eksperimen bikin kue. Saya ingat waktu itu kami melakukan percobaan membuat kue kering, namun karena salah mengocok adonannya keenceran. Selain itu hambatannya sangat banyak, mulai dari mixer yang rusak, oven yang timernya gak berfungsi, sampai mati listrik. Alhasil kue kami gosong dan pahit. Tetapi kami tetap bisa tertawa bersama. hahaha...

Minggu, 24 Januari 2016

Page 23 of 366 Days #journal

Deket rumah gue ada apartemen kecil, nggak terlalu ramai sih. Cuman dari dulu gue ngincer foodcourt yang di Lobby pintu masuknya. Cuma tempat itu selalu penuh, jadi gue waiting list doang. Akhirnya penantian gue yang panjang selama bertahun-tahun terjawab. Orang apartemennya bilang kalo warung Soto sebelah nasi rames udah tutup. Langsung aja gue hubungi temen berkebun gue yang sama-sama punya niat buat jual makanan (soalnya bulan ini pengeluaran gue udah melebihi limit dana darurat). Eh setelah lihat tempatnya kayaknya dia kurang tertarik. Yaudah akhirnya terpaksa deh gue ambil dana dari kantin Rice & Fries yang di sekolah buat bayar sewa lapak di apartemen itu. Yang penting tempatnya udah dapet dulu, dan segera dibayar sebelum ditikung orang lain.
Sebenernya gue masih bingung sih mau jual apaan di apartemen itu, soalnya tahun ini gue emang gak ada rencana buka cabang baru. Jadi ya berhubung ada tempat kosong yang lumayan strategis, gue ambil resiko menjalankan bisnis ini. Kayaknya sih gue sama Sarah mau jualan ice cream, pancake, waffle, takoyaki, okonomiyaki sama mie ramen dan suki. Eh, kita mau jualan roti bakar juga deh kayak Mas Isnan. Doain ya gaes, semoga warungnya banyak rejeki, dan kita nggak pingsan mempersiapkan semua-semuanya sendiri. Kayaknya sih nggak soalnya kita berdua cewek-cewek perkasa. Hahahaha...


Minggu, 17 Januari 2016

Page 17 of 366 Days #journal

Ibu Saya sibuknya sudah seperti orang tua tunggal dan tulang punggung keluarga. Sampai sekarang beliau pun masih produktif dengan keterampilannya membuat gaun dan kebaya untuk acara pesta dan acara nikahan. Setiap siang sepulang dari sekolah Saya membantu ibu memasak nasi, jika sudah terlalu lapar biasanya Saya membuat mie instan atau lauk telur dadar + kornet keju. Atau jika bersabar biasanya Saya dan adik-adik menunggu Ibu pulang untuk memasak menu makan siang kami (kadang-kadang sih beli nasi padang aja kalau lagi banyak kerjaan dan gak sempat masak). Dulu ibu Saya sering memasak sayur oseng-oseng buncis + hati ayam. Biasanya sayur itu terasa manis dan asin karena memakai kecap asin saat menumisnya. Namun ketika Saya mencicipinya hari itu sayur buncis terasa manis seperti sirup obat batuk rasa jeruk. Saya berkomentar "Mah, kok rasanya aneh sih buncisnya? kayak obat gitu". Dan Ibu Saya menjawab "Aneh apanya? udah lah makan aja jangan banyak komentar!" rupanya beberapa hari kemudian Beliau baru menyadari kalau ternyata dia salah mengambil botol kecap asin di kulkas yang bersebelahan dengan botol sirup ABC squash. Hahaha... yaudah lah, gue maapin aja, lagian juga masaknya buru-buru amat. Sampai sekarang pun tiap hari dia masih tetap suka masak buat anak-anaknya, meskipun anak-anaknya udah pada jadi Bang Toyib (baca : jarang pulang).

Sabtu, 16 Januari 2016

Suatu Hari #flashfiction

Suatu hari Saya pernah kehilangan kunci pagar rumah Saya. Keesokan paginya Ibu Saya mengembalikannya di atas meja makan, waktu kami sedang sarapan.

Suatu hari Saya kehilangan sweater favorit Saya. Dua hari kemudian Ibu menemukannya terselip di lemari bajunya, lalu ia menaruhnya di atas tumpukan baju Saya.

Suatu hari Saya kehilangan kartu ATM Saya. Tiga hari kemudian Ibu meletakkannya di atas handphone Saya. "Ini ketinggalan di kantong belanja waktu kemarin kamu ke supermarket, nak." Seketika rasa cemas Saya menghilang, karena Saya belum sempat pergi ke bank untuk mengurus kartu yang baru.

Suatu hari Saya kehilangan kaos kaki Saya yang sebelah kanan. Seminggu kemudian Ibu menemukannya di kolong tempat tidur Saya yang penuh barang usang dan berdebu.

Suatu hari Saya kehilangan payung biru kesayangan Saya. Sebulan kemudian Ibu memasukkannya ke dalam tas ransel Saya. “Kau lupa dan meninggalkannya di kursi Gereja.” jawabnya sambil menggelengkan kepala.

Suatu hari Saya kehilangan charger HP Saya. Saya takut mengatakannya pada ibu, tapi Saya tetap berharap suatu saat barang itu akan ditemukan oleh Ibu. Dan benar saja, tiga bulan kemudian Ibu mengembalikannya lagi. Tidak sengaja terbawa oleh saudara sepupu yang tinggal di luar kota saat mereka menginap di rumah kami.

Suatu hari Saya kehilangan pacar Saya. Malam itu di meja makan Saya nampak pucat dan tak bersemangat menyantap masakan Ibu. Lalu Ibu bertanya, “Apa kau kehilangan sesuatu lagi, nak?”.Saya menggeleng dan tersenyum palsu, sambil berusaha menghabiskan makan malam Saya.

Sejak itu Saya sering melamun dalam diam dan berharap Ibu dapat mengembalikannya. Dia gadis yang baik dan Saya telah menyia-nyiakannya hingga akhirnya dia pun pergi. Saya menunggu sehari, dua hari, seminggu, sebulan bahkan lebih dari setahun. Tapi ibu tetap saja tidak dapat menemukannya. Mungkin benar yang dikatakan orang-orang;
“Nothing is really lost until your mom can’t find it!”
Pacar Saya benar-benar hilang dan tak kembali, demikian pula dengan harapan Saya akan masa depan.

Suatu hari Saya kehilangan pekerjaan Saya. Enam bulan kemudian teman kuliah Ibu menghubungi Saya untuk bekerja di perusahaannya.  Sekarang Saya kembali bersemangat menjalani kehidupan ini meskipun masih sendiri.

Ibu memang luar biasa. Aku yakin jika bersama Ibu semuanya akan baik-baik saja. Saya tidak berani membayangkan bagaimana jadinya hidup Saya jika suatu hari Saya kehilangan Ibu.

I love you, Mom!

-The End-


 sumber gambar : etsy.com

Flash fiction ini ditulis dalam rangka #GiveAway Bareng Elisa dan Immank . Jika kamu tertarik untuk mengikutinya bisa kunjungi blog mereka berdua dan baca aturan mainnya. Hadiahnya banyak dan unyu-unyu lhooo... ^^ jangan lupa ya follow juga twitternya @elisafariesta dan @nfirmansyah_ yang kece dan kekinian! :)

Jumat, 25 Desember 2015

Begin Again

Ini bukan judul film, bukan juga judul lagu. Hanya ingin mulai lagi menulis life journal di tahun 2016. Eh tapi gak usah nunggu tahun baru deh, daripada nanti kelamaan trus basi dan akhirnya lupa kalau mau nulis diary jurnal harian (udah kayak pelajaran akuntansi aja) :D
Gue sebenernya pengen hidup lebih disiplin, lebih rajin dan lebih mandiri, tapi kayaknya tahun ini gak ada kemajuan, yang ada berat badan gue naik 5 kg dari tahun lalu. wkwkwkwkwkwk...
Nah makanya mulai besok gue harus latihan bangun pagi, anggep aja liburan gue udah selesai. huuufftt...padahal besok itu Sabtu lhooo... ya kurang ikhlas aja kalo weekend kudu bangun jam 4 pagi. :(
Mari kita coba. Besok gue rencananya mau nyuci piring, trus masak nasi, nyuci baju, sepatu & kaos kaki. Sama beli kado buat acara hari minggu nih. Semoga malam ini gue bisa tidur nyenyak *olesin Autan banyak-banyak*
Hmmm...semoga besok mood gue bisa stabil yah meskipun lagi kurang tidur & kurang olahraga, & semoga gak terpengaruh oleh cuaca Jakarta yang panas tapi gak hujan-hujan. Dan gak terpengaruh oleh orang-orang Jutek di sebelah gue yang kadang-kadang sering bikin gue lelah....pokoknya inget, ga boleh males. Dan jangan megang hape sebelom kerjaan rumah tangga selesai. hahaha... Mari kita coba, Jane! Ganbatte kudasai...


Selasa, 26 November 2013

it's Almost Four Months

4 Bulan yang lalu Saya melakukan sebuah "hal gila" yang luar biasa (kata orang-orang di sekitar Saya). Tapi menurut Saya sih hal itu biasa saja. Potong rambut! Bukankah itu biasa? Hampir semua orang pernah potong rambut, lalu kenapa mereka jadi sangat heboh dan menyayangkan tindakan Saya itu? Hmmm.... mungkin karena mereka pikir Saya tidak akan pernah melakukannya. memotong pendek rambut Saya. Sependek apa sih? haaahahaha.... ya, sependek ini...

Okee....jadi waktu bulan Agustus Saya ke Salon,
tukang potong rambutnya pun kaget ketika Saya menunjukkan foto Emma Watson.
"Saya mau potong model kayak gini, bisa kan?"
"Serius mau sependek ini, mbak?"
"Iya....memangnya kenapa?"
"Gak sayang sama rambutnya?"
"Nggak...potong saja, mbak. Saya bosan tiap bulan harus hair spa, maskeran, dll. Lagian rambut Saya ini sudah rusak, Saya juga udah males nyisir, jadi kusut-kusut nggak jelas"
kemudian dia pun menjalankan perintah dengan ragu-ragu, alhasil rambut Saya tidak mirip Emma Watson, tapi malah jadi seperti Halle Berry. Haahahaaha...dan orang-orang sejak hari itu memanggil Saya dengan nama "Halle Berry" atau "Jane Berry" mereka bilang Saya jadi mirip sekali dengan pemeran tokoh agen rahasia di film James Bond itu. Haahahaaaha...

Ternyata rambut pendek lebih boros shampoo, tiap hari saya cuci rambut 2x kadang 3x karena tidak betah keringetan. Biasanya keringetan pada rambut panjang keringatnya menempel di rambut, kalau ini keringatnya langsung menetes atau mengenai kulit, dan wajah terasa lengket. jadi Saya tidak betah dan segera mencucinya agar wajah Saya terasa segar kembali. Kemudian yang jadi masalah, tiap hari Saya harus mengenakan wax/gel rambut untuk menata rambut agar terlihat keren. (Soalnya kalo Saya nggak pake gel, pada protes, halle berry kok rambutnya gak pake gel hari ini?) hadeeeeuh....sejak kapan mereka jadi terlalu memperhatikan penampilan Saya. Dan tiap bulan ternyata rambut Saya tumbuh dengan sangat cepat, akhirnya bulan lalu Saya potong lagi, kali ini bukan model emma watson atau halle berry lagi, tapi Saya hampir membuat kepala Saya botak. Karena Saya lelah, lelah mengurusi rambut.
Yepp...itu alasan utama Saya potong rambut, Saya Lelah, haahahahaha...
meskipun sebagian orang mengira Saya sedang stress atau sedang patah hati, lalu potong rambut.
terserah, Saya tidak peduli. Yang penting sekarang Saya tidak perlu lagi repot-repot menyisir kepala Saya yang hampir botak ini
yaaaah....kadang-kadang Saya rindu juga sih dengan rambut panjang Saya, hehehe....tapi Saya lebih suka rambut pendek, karena dengan rambut tomboy seperti ini, Saya jadi merasa lebih aman kalau jalan sendirian di malam hari, gak ada lagi cowok iseng yang suka gangguin "darimana neng? kok sendirian aja?" haahahaha.





Bisa Jadi....Bisa Jadi...

Sebentar-sebentar menghilang, sebentar-sebentar tidak bisa dihubungi.
Bisa jadi Saya sedang tidak di Jakarta, bisa jadi Saya sedang berada di kotamu.
Atau bisa jadi Saya sedang terbaring lemah di Rumah Sakit.
Bisa jadi.....hmmmm......bisa jadi...

Akhir-akhir ini memang Saya lebih suka menyendiri,
mungkin hal ini agak aneh bagi orang-orang yang sudah lama mengenal Saya.
"Heyy...kenapa lo, Jane? Sejak kapan lo suka jalan-jalan ke luar kota sendirian"
"Sombong ya sekarang, gak pernah ngajakin gue jalan-jalan lagi nih"
"Kenapa sih hape lo nggak bisa dihubungi? BBM udh sebulan gak aktif"
"Lo kenapa sih akhir-akhir ini sulit ditemui? Padahal jarang ada di kantor juga"
"Sejak kapan lo jadi betah tinggal di rumah?"
dan masih banyak komentar-komentar lainnya.
Yaaa.....bisa jadi Saya memang sedang tidak ingin ditemui.
atau memang sudah tidak bisa lagi ditemui,
bisa jadi....bisa jadi....