Selasa, 30 Desember 2014

A Dream Catcher (Sebuah Renungan di Akhir Tahun)

Mengapa mimpi harus dikejar dan ditangkap? (seperti pencuri atau jambret saja ya, hahahaha... )
Dua tahun lalu Saya iseng-iseng membuat sketch dari logo di atas dengan menggunakan pensil 2B dan kertas buram. Sepulang kantor malam harinya sebelum tidur Saya kembali membuka laptop Saya, mentransfer ide logo bungkus kertas tadi dan menyempurnakannya dengan software paint serta memberi warna seadanya, lalu Saya tunjukan ke Nina, salah satu teman twitter Saya yang kebetulan anak jurusan DKV. Nina bilang design-nya udah bagus dan simple, kemudian dia lanjut bertanya "Emang lo mau buat bisnis makanan, Jane? Target pasarnya siapa? bla..bla...bla..." Dan Saya hanya menjawab, "Gue cuma iseng aja sih, Nin. Belom jadi, baru bikin logo-nya dan baru survey ke beberapa anak SMA."
Dari jaman SD selain melukis Saya memang suka melakukan beberapa eksperimen di dapur dan bermimpi suatu saat akan memiliki sebuah cafe atau resto atau pun hanya sebuah kedai kecil di pinggir jalan seperti kedai @rerotian di Cikini (milik salah satu teman twitter juga). Akhirnya Saya melakukan beberapa perhitungan kelayakan usaha dan 3 minggu berikutnya Saya iseng membuat page di Facebook   Rice & Fries

Pada waktu itu Saya masih mengajar dan sangat sibuk dengan bisnis Bimbingan Belajar bersama senior-senior Saya, dan sangat tidak mungkin memiliki waktu untuk mengelola sebuah kios Japanese Food seperti yang Saya idam-idamkan. Waktu luang untuk berlibur di akhir pekan saja sulit, karena pekerjaan yang sedang Saya tekuni sedang berkembang sangat pesat dan Saya ditugaskan untuk melakukan riset dan membuat database soal-soal ujian SMA.

Beberapa minggu berlalu (lagi), dan fokus Saya mulai beralih ke kegiatan lain yang lebih menarik seperti berkebun dan filmmaking. Namun tiba-tiba Tante Saya menawarkan untuk menyewa toko di sebelahnya yang kebetulan sedang kosong. Karena Saya masih sibuk di kantor setiap hari dan tidak punya ide mau usaha apa, akhirnya Saya memakai bantuan seoran asisten dan memulai dengan berjualan juice buah segar. Namun usaha pertama itu tidak berjalan mulus, dan berkali-kali Saya juga ditipu oleh karyawan Saya.
Akhirnya Saya menyerah dan menutup kios yang saat itu saya beri nama "Green Basket".
Dan di akhir tahun 2013 dengan kondisi tabungan Saya yang tinggal 1/2 penuh dan juga masih sibuk ngantor tiap hari (hari minggu dan tanggal merah pun masuk kantor juga) Saya menerima tawaran dari wakil kepala sekolah tempat Saya bersekolah dulu (deket sih dari rumah Saya, tapi jauh dari kantor). Waktu itu SMA tercinta sedang open recruitment untuk menyewa 8 kios yang baru dibangun. Di awal Januari Saya mengikuti food test yang diadakan oleh pihak Sekolah dengan persiapan yang minim dan mepet (Sumpah, baru kali ini Saya ikut benginian) Berasa lagi lomba Master Chef karena peraturan dan penilaiannya sangat ketat. Siangnya seusai tanda tangan kontrak Saya BBM kekasih hati yang sedang sibuk nyiapin konser DJ di acara ultah sepupunya di Senayan, Saya bilang Saya benar-benar tidak menyangka kalau Saya berhasil meraih peringkat 1 diantara 16 orang yang sudah profesional dalam bisnis kantin. Dan pacar Saya membalas BBM dengan singkat "Well done Babe! I knew you can do it, sweetie <3"
Dan setahun pun berlalu (dengan modal sisa tabungan yang sangat pas-pasan 30 juta pun habis tak bersisa (karena baru BEP dan 6 bulan belakangan Saya resign dari kantor karena ingin benar-benar fokus, sehingga Saya tidak punya sumber income lainnya) kadang Saya terpaksa berhemat dan Saya tidak memakai asisten chef. Sehingga segala sesuatu mulai dari memasang tabung kompor gas, hingga mencuci piring dan membersihkan lantai Saya lakukan sendiri. Benar-benar melelahkan, dan Saya belum dapat menikmati hasil kerja keras Saya selama setahun membuka kios "Rice & Fries" ini. Sebenarnya masih ada tabungan lain lagi, tapi Saya berjanji tidak akan menggunakan itu selain dalam kondisi darurat. Ah...sudahlah, ini belum apa-apa, malam masih panjang dan mimpi Saya masih baru dimulai. Sekarang Saya mengerti kenapa ada orang yang pernah merasakan sangat sendiri dan tidak ada yang menolong. Ternyata itu benar-benar ada, beberapa bulan ini Saya merasakan hal itu, dan memang tidak ada yang menolong. Mungkin ada, namun tidak banyak menolong, sehingga hanya membuat Saya semakin tertekan. Dan akhirnya berpikir hanya Saya sendiri yang bisa menolong diri Saya sendiri. Karena ini mimpi Saya.
Hari ini tidak sengaja Saya membuka kembali Facebook page "Rice & Fries" yang sudah 2 tahun lalu Saya buat. Tadinya Saya ingin menjual kontrak sewa kantin ini kepada salah satu teman Saya, namun tukang nasi goreng yang berjualan di sebelah Saya bilang kalau Saya masih punya harapan karena produk Saya unik, tidak seperti penjual nasi goreng yang bisa ditemui di setiap gang di kompleks ini. Saya tidak tahu harus melakukan apa lagi karena Saat ini Saya sedang stress dan banyak masalah. Saya benar-benar tidak menyangka kalau waktu begitu cepat berlalu, dan mimpi Saya perlahan-lahan mulai menjadi nyata. Memang tidak mudah menangkap mimpi yang indah. Ia terbang kesana-kemari seperti kupu-kupu. Namun Saya percaya jika Saya sabar dan tekun dalam berusaha mengejarnya, maka suatu hari kupu-kupu itu akan hinggap di jendela kamar Saya. Selamat Tidur, Selamat bermimpi dan mengejarnya.








dua gambar terakhir diambil dari Google